{"id":1043,"date":"2026-08-13T13:46:31","date_gmt":"2026-08-13T06:46:31","guid":{"rendered":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/?p=1043"},"modified":"2026-08-13T19:03:46","modified_gmt":"2026-08-13T12:03:46","slug":"training-ai-untuk-perusahaan-panduan-lengkap-buat-tim-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/kursus\/training-ai-untuk-perusahaan-panduan-lengkap-buat-tim-2026\/","title":{"rendered":"Training AI untuk Perusahaan: Panduan Lengkap buat Tim (2026)"},"content":{"rendered":"<p><strong>tl;dr:<\/strong> Adopsi AI di perusahaan Indonesia naik cepat, tapi banyak tim yang punya akses ke AI justru belum produktif pakai \u2014 masalahnya bukan lagi soal keputusan adopsi, tapi skill SDM yang ketinggalan. Training AI untuk tim jadi jawaban paling langsung: bukan sekadar kenalan teori, tapi bikin karyawan benar-benar bisa pakai AI buat kerjaan sehari-hari. Di bawah dibahas kenapa ini mendesak sekarang, skill apa yang paling berdampak, format training yang efektif, dan cara memilih penyelenggara yang hasilnya bukan cuma sertifikat.<\/p>\n<p>Banyak perusahaan sudah kasih akses ChatGPT atau Copilot ke tim, tapi hasilnya nggak seragam \u2014 sebagian karyawan jadi jauh lebih produktif, sebagian lagi cuma pakai buat hal receh atau malah nggak pakai sama sekali. Bedanya bukan di tools, tapi di training. Inilah inti masalahnya: <strong>akses AI sudah tinggi, tapi kemampuan dan training belum merata.<\/strong> Adopsi naik cepat di satu sisi, sementara di sisi lain kesenjangan skill masih menganga \u2014 dan justru jarak antara dua hal itu yang menentukan siapa yang benar-benar dapat manfaatnya.<\/p>\n<h2>Kenapa Perusahaan Perlu Training AI untuk Tim Sekarang<\/h2>\n<p>Data adopsi AI di Indonesia menunjukkan tren yang jelas: menurut <a href=\"https:\/\/press.aboutamazon.com\/sg\/aws\/2025\/8\/new-aws-research-shows-strong-ai-adoption-momentum-in-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"nofollow noopener\">riset AWS bersama Strand Partners (2025)<\/a>, sudah 28% bisnis Indonesia mengadopsi AI dengan pertumbuhan 47% year-over-year \u2014 setara lebih dari sepuluh bisnis baru mengadopsi AI tiap menit sepanjang 2024. Tapi angka adopsi yang tinggi itu menyembunyikan kesenjangan penting: <strong>76% bisnis masih berkutat di penggunaan paling dasar<\/strong> (sekadar efisiensi dan merapikan proses), cuma 11% yang mencapai tahap menengah, dan hanya 10% yang benar-benar mengintegrasikan AI sampai jadi inti cara kerja. Artinya, mayoritas perusahaan sudah punya akses tapi belum tahu cara memanfaatkannya secara mendalam \u2014 dan di situlah training berperan.<\/p>\n<p>Data lokal memperkuat gambaran ini. Survei kumparan x Populix (\u201cIndonesia AI Report 2025\u201d, 1.000 responden) menemukan <strong>57% karyawan Indonesia sudah rutin pakai chatbot generatif<\/strong> seperti ChatGPT, Gemini, atau Meta AI \u2014 tapi baru <strong>45% perusahaan yang benar-benar mendukung<\/strong> penggunaan AI di pekerjaan. Artinya karyawan justru lebih dulu bergerak daripada kantornya; inisiatif belajar tinggi, tapi dukungan dan training formal dari perusahaan masih ketinggalan. Survei yang sama juga mencatat mayoritas belajar AI secara otodidak (84% dari media sosial dan YouTube, hanya 21% lewat kursus formal), yang bikin banyak orang \u201cpaham di permukaan\u201d \u2014 bisa pakai, tapi belum optimal.<\/p>\n<p>Tantangan utama sekarang bukan lagi soal keputusan mau adopsi AI atau tidak \u2014 itu sudah lewat. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkannya secara efektif. Perusahaan yang tim-nya cuma dikasih akses tanpa training biasanya menghadapi beberapa risiko: produktivitas yang seharusnya naik jadi stagnan karena karyawan nggak tahu cara pakai yang tepat, promptnya buruk.<\/p>\n<p>Selain itu potensi terjebak AI halucination yang membuat misleading, juga tidak dapat dikesampingkan. Bahkan, terkadang kebijakan penerapan teknologi baru tanpa dibarengi dengan pelatihan pada para staf dapat membuat mereka merasa terbebani, karyawan perlu meraba-raba sendiri output terbaik dari penggunaan AI, hasil pekerjaan kurang konsisten, dan risiko keamanan dari &#8220;shadow AI&#8221; \u2014 karyawan pakai tools AI publik sembarangan tanpa panduan, termasuk untuk data sensitif perusahaan.<\/p>\n<p>Survei kumparan pun mencatat keamanan data (55%) dan akurasi hasil (53%) sebagai tantangan terbesar yang dirasakan pengguna AI di Indonesia.<\/p>\n<h2>Training AI: Skill Apa yang Paling Berdampak buat Tim?<\/h2>\n<p>Training AI untuk perusahaan adalah program pelatihan yang membantu karyawan menggunakan artificial intelligence secara aman dan efektif untuk menyelesaikan pekerjaan nyata, mulai dari prompting dan workflow automation hingga penggunaan AI Agent sesuai fungsi masing-masing.<\/p>\n<p>Kesalahan umum saat merancang training AI internal: fokusnya ke teori (apa itu machine learning, bagaimana AI bekerja secara teknis) padahal yang dibutuhkan tim kebanyakan adalah skill praktis \u2014 cara pakai AI buat menyelesaikan pekerjaan.<\/p>\n<p>Fondasi yang berlaku buat semua tim:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Prompting efektif<\/strong> \u2014 cara memerintah AI supaya hasilnya tepat sasaran, bukan generik.<\/li>\n<li><strong>Integrasi AI ke workflow harian<\/strong> \u2014 menyambungkan AI ke tools yang sudah dipakai tim (spreadsheet, email, chat) supaya bukan cuma &#8220;chat terpisah&#8221; tapi bagian dari alur kerja.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Setelah fondasi ini kepasang, skill paling berdampak berikutnya beda-beda tergantung fungsi tim \u2014 bukan satu skill generik buat semua. Untuk tim yang pekerjaannya banyak tugas berulang, kemampuan membangun atau menggunakan AI Agent bisa jadi level lanjutan yang paling terasa dampaknya:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Marketing<\/strong> \u2014 riset konten, produksi konten dalam skala, analisis performa.<\/li>\n<li><strong>Finance<\/strong> \u2014 pemrosesan dokumen (invoice, laporan), analisis data keuangan.<\/li>\n<li><strong>HR<\/strong> \u2014 screening kandidat, draft komunikasi internal.<\/li>\n<li><strong>Legal<\/strong> \u2014 review dokumen dan kontrak.<\/li>\n<li><strong>Sales<\/strong> \u2014 kualifikasi leads, follow-up otomatis.<\/li>\n<li><strong>Customer service<\/strong> \u2014 jawab FAQ, triase tiket sebelum masuk ke agen manusia.<\/li>\n<li><strong>Management<\/strong> \u2014 ringkasan eksekutif, reporting rutin.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Training yang bagus mengenali perbedaan ini sejak awal \u2014 bukan maksa satu template skill buat seluruh perusahaan.<\/p>\n<p>Satu catatan jujur: kalau kebutuhan perusahaan murni pelatihan teori AI\/machine learning buat tim engineer yang mau membangun model dari nol, program berbasis AI Agent bukan pilihan paling tepat \u2014 tim itu lebih cocok ikut program machine learning engineering, data science, atau pelatihan teknis khusus. Bukan itu yang dijual komunitech, dan lebih baik diarahkan dari awal daripada salah ekspektasi.<\/p>\n<h2>Format Training AI: In-House, Online, Workshop, atau Bootcamp?<\/h2>\n<p>Ada beberapa format training AI korporat, dan masing-masing punya trade-off yang berbeda:<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Format<\/th>\n<th>Cocok buat<\/th>\n<th>Trade-off<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>In-house \/ on-site<\/strong><\/td>\n<td>Tim besar, materi disesuaikan kasus internal<\/td>\n<td>Lebih relevan, tapi butuh koordinasi jadwal &amp; lokasi<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Online \/ remote<\/strong><\/td>\n<td>Tim tersebar lokasi, budget terbatas<\/td>\n<td>Fleksibel, tapi engagement lebih sulit dijaga<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Workshop intensif<\/strong><\/td>\n<td>Hasil cepat, satu output nyata dalam waktu singkat<\/td>\n<td>Padat, butuh follow-up biar nggak putus di tengah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Bootcamp<\/strong><\/td>\n<td>Transisi peran, komitmen penuh berminggu-minggu<\/td>\n<td>Paling mendalam, tapi paling mahal waktu &amp; biaya<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Buat kebanyakan perusahaan yang mau tim langsung produktif tanpa mengorbankan operasional berminggu-minggu, workshop intensif dengan tindak lanjut biasanya jadi titik seimbang \u2014 cukup padat buat hasil nyata, cukup singkat buat nggak ganggu jalannya bisnis.<\/p>\n<h3>Bingung Pilih yang Mana? Cek Berdasarkan Ukuran Tim<\/h3>\n<ul>\n<li><strong>Tim di bawah 10 orang<\/strong> \u2192 Workshop hands-on sudah cukup buat mulai.<\/li>\n<li><strong>Tim 10-50 orang<\/strong> \u2192 Workshop plus pendampingan lanjutan biar hasilnya nggak berhenti di sesi pertama.<\/li>\n<li><strong>Tim besar\/multi-departemen<\/strong> \u2192 In-house atau program yang disesuaikan kasus internal per fungsi.<\/li>\n<li><strong>Butuh sistem langsung jalan tanpa proses belajar<\/strong> \u2192 Done-For-You (DFY).<\/li>\n<li><strong>Butuh skill jangka panjang, bukan sekali pakai<\/strong> \u2192 Program mentoring berkelanjutan.<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Training AI untuk Segmen Spesifik<\/h2>\n<p>Kebutuhan training AI beda-beda tergantung fungsi tim:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Tim HR<\/strong> \u2014 screening kandidat lebih cepat, draft komunikasi internal, rangkum evaluasi kinerja.<\/li>\n<li><strong>Tim marketing<\/strong> \u2014 riset konten, produksi caption dan visual dalam skala, analisis tren.<\/li>\n<li><strong>Tim sales<\/strong> \u2014 kualifikasi leads otomatis, follow-up prospek yang biasanya kelewat.<\/li>\n<li><strong>Tim customer service<\/strong> \u2014 jawab pertanyaan berulang, triase tiket sebelum eskalasi ke manusia.<\/li>\n<li><strong>Tim finance<\/strong> \u2014 pemrosesan invoice dan dokumen, rangkum laporan keuangan.<\/li>\n<li><strong>Management<\/strong> \u2014 ringkasan eksekutif dari data yang tersebar, reporting rutin.<\/li>\n<li><strong>UMKM\/tim kecil<\/strong> \u2014 automasi tugas admin, CS otomatis, laporan harian tanpa perlu tim IT khusus.<\/li>\n<li><strong>Tim operasional<\/strong> \u2014 otomasi laporan rutin, monitoring, follow-up yang selama ini dikerjakan manual berulang.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Training yang efektif menyesuaikan studi kasus dengan fungsi masing-masing tim, bukan materi generik yang sama buat semua departemen.<\/p>\n<h2>Cara Memilih Penyelenggara Training AI Korporat<\/h2>\n<p>Sebelum memutuskan vendor training, cek tiga hal ini:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Trainer-nya praktisi.<\/strong> Cari yang benar-benar membangun dan menjalankan sistem AI, bukan cuma menyampaikan slide teori. Di Komunitech, bukan hanya Robbie Jeo sebagai CEO Komunitech yang menguasai AI, tapi semua staf Komunitech sudah terbiasa membuat dan menjalankan sistem automation berbasis AI Agent.<\/li>\n<li><strong>Hasil terukur, bukan cuma sertifikat.<\/strong> Training yang bagus mastiin tim keluar dengan sesuatu yang jalan \u2014 misalnya satu alur kerja otomatis yang benar-benar dipakai, bukan cuma selembar sertifikat partisipasi.<\/li>\n<li>Contoh <a href=\"https:\/\/komunitech.com\/blog\/implementasi\/studi-kasus-ai-agent-openclaw-jalanin-workflow-seo-komunitech-dari-riset-sampai-reporting-2026\/\">workflow penggunaan AI agent oleh tim internal Komunitech<\/a> secara langsung untuk mendukung kebutuhan SEO korporat, mampu meningkatkan produktivitas dari 2-3 artikel menjadi 6-10 artikel perhari.<\/li>\n<li><strong>Ada pendampingan setelah training selesai.<\/strong> Titik macet biasanya muncul justru saat tim mulai praktik sendiri di lapangan. Vendor yang cuma &#8220;training habis, urusan selesai&#8221; sering bikin materi nggak pernah benar-benar dipakai.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kalau kamu penasaran seberapa besar selisih biaya antara mengandalkan tim manusia penuh versus AI Agent yang sudah terlatih, breakdown soal <a href=\"https:\/\/komunitech.com\/blog\/karyawan-ai\/biaya-karyawan-ai-vs-karyawan-manusia-hitungan-jujur-untuk-bisnis-indonesia-2026\/\">biaya Karyawan AI dibanding karyawan manusia<\/a> ngasih hitungan konkret buat pertimbangan investasi training-nya.<\/p>\n<h2>Program Training AI Komunitech untuk Tim<\/h2>\n<p>KomuniTech menyediakan beberapa jalur training AI, tergantung skala dan kebutuhan tim kamu:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Workshop Karyawan AI<\/strong> \u2014 sesi hands-on 2 jam, tim langsung praktik bikin AI Agent pertama, dengan pendampingan lanjutan pasca-workshop biar hasilnya benar-benar dipakai, bukan berhenti di sertifikat.<\/li>\n<li><strong>Program Pro<\/strong> \u2014 cocok buat tim yang mau konsultasi kasus bisnis spesifik plus sesi rutin bareng mentor.<\/li>\n<li><strong>Done-For-You (DFY)<\/strong> \u2014 kalau tim kamu mau langsung punya sistem AI Agent yang jalan tanpa proses belajar dari nol, tim teknis KomuniTech yang setup dari awal sampai siap pakai.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kalau kamu mau lihat gambaran lebih luas soal penyelenggara workshop AI di Indonesia sebelum memutuskan, ada perbandingan di <a href=\"https:\/\/komunitech.com\/blog\/kursus\/7-tempat-workshop-ai-agent-di-indonesia-2026-perbandingan-harga-fokus-cocok-buat-siapa\/\">7 tempat workshop AI Agent di Indonesia<\/a> yang bisa jadi referensi.<\/p>\n<p>Contoh nyatanya datang dari Mas Feri, IT Developer di salah satu pabrik bulu mata palsu di Purbalingga. Ia awalnya mengikuti Workshop Karyawan AI di Komunitech karena diminta atasannya.<\/p>\n<p>Setelah workshop, bukannya berhenti di penggunaan chatbot biasa, Mas Feri mulai mengembangkan mini-project berdasarkan masalah yang benar-benar ia temui di pekerjaan. Salah satunya adalah IT support: timnya punya history kerusakan komputer dan printer beserta penanganannya, tetapi informasi tersebut tidak selalu mudah dicari ketika kasus serupa muncul.<\/p>\n<p>Dengan AI Agent, data tersebut mulai dijadikan knowledge yang bisa ditanyakan secara langsung\u2014misalnya untuk mengetahui total keluhan atau bagaimana kasus tertentu pernah ditangani. Ini contoh konkret bahwa training AI bisa mengubah karyawan dari sekadar pengguna AI menjadi problem-solver yang mampu menemukan use case sendiri.<\/p>\n<p>Eksperimennya kemudian berkembang. Mas Feri menjalankan OpenClaw secara lokal di komputernya dan menghubungkannya dengan sistem perusahaan melalui API. Salah satu workflow yang ia bangun membantu update stok website dari file Excel: data stok terbaru diberikan ke AI, diproses, lalu dikirim ke sistem website melalui API. Ia bahkan mengembangkan aplikasi web dengan fungsi mirip Telegram untuk kebutuhan internal.<\/p>\n<p>Jadi, hasil training-nya bukan sekadar \u201ckaryawan tahu cara prompting\u201d, tetapi sudah berkembang menjadi eksperimen AI Agent \u2192 knowledge perusahaan \u2192 API \u2192 sistem existing \u2192 workflow operasional.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"IT Developer Ini Bikin Ulang Telegram Pakai AI Agent!\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/hUAqSjkUnOc?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: center;margin: 28px 0\"><a style=\"display: inline-block;background: #6366f1;color: #fff;padding: 14px 28px;border-radius: 8px;font-weight: 600;text-decoration: none\" href=\"https:\/\/wa.me\/6282276986536\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Konsultasi Program Training Tim \u2192 WhatsApp<\/a><\/p>\n<p>Setiap tim beda kebutuhan dan skalanya \u2014 tim di KomuniTech bakal nanya dulu soal ukuran tim dan tujuan kamu sebelum merekomendasikan program mana yang paling pas, jadi kamu nggak bayar lebih dari yang perlu.<\/p>\n<h2>Tim yang Duluan Kuasai AI, Duluan Menang<\/h2>\n<p>Akses ke AI sudah bukan pembeda lagi \u2014 hampir semua perusahaan punya akses yang sama ke ChatGPT, Copilot, atau tools sejenis. Yang membedakan sekarang adalah seberapa jago tim memakainya buat kerjaan nyata. Training tanpa arah cuma menghasilkan sertifikat; training yang tepat menghasilkan tim yang benar-benar lebih produktif.<\/p>\n<p>Mulai dari skill yang paling berdampak \u2014 bukan teori, tapi automasi tugas berulang \u2014 pilih format yang sesuai skala tim, dan pastikan ada pendampingan setelah sesi selesai. Perusahaan yang bergerak duluan di titik ini akan lebih dulu merasakan efisiensinya, sementara yang menunda terus akan makin tertinggal dari kompetitor yang sudah jalan.<\/p>\n<h2>Pertanyaan yang Sering Ditanya<\/h2>\n<h3>Kenapa perusahaan perlu training AI untuk karyawan?<\/h3>\n<p>Karena akses ke AI saja tidak cukup \u2014 masih menurut riset AWS dan Strands Partners di atas, 94% knowledge worker Indonesia dilaporkan sudah menggunakan AI. Namun, tingkat kedalaman pemanfaatannya tidak sama\u2014sebagian masih menggunakan AI untuk tugas-tugas sederhana. Tanpa training, produktivitas yang seharusnya naik jadi stagnan, dan muncul risiko keamanan dari karyawan yang pakai AI publik sembarangan untuk data sensitif perusahaan.<\/p>\n<h3>Training AI untuk tim paling efektif fokus ke apa?<\/h3>\n<p>Skill praktis, bukan teori: prompting efektif, integrasi AI ke workflow harian, dan automasi tugas berulang lewat AI Agent. Skill terakhir yang paling berdampak karena langsung mengubah cara kerja, bukan sekadar pengetahuan.<\/p>\n<h3>Apa beda training AI in-house, online, workshop, dan bootcamp?<\/h3>\n<p>In-house cocok buat tim besar dengan materi disesuaikan kasus internal. Online fleksibel buat tim tersebar lokasi. Workshop intensif kasih hasil cepat dalam waktu singkat. Bootcamp paling mendalam tapi butuh komitmen waktu dan biaya lebih besar.<\/p>\n<h3>Berapa biaya training AI untuk perusahaan?<\/h3>\n<p>Bervariasi tergantung format, skala tim, dan kedalaman materi. Untuk gambaran program dan biaya yang sesuai kebutuhan tim kamu, konsultasi langsung ke tim penyelenggara biasanya lebih akurat daripada patokan harga umum.<\/p>\n<h3>Bagaimana cara memilih penyelenggara training AI korporat?<\/h3>\n<p>Cek tiga hal: trainer-nya praktisi yang benar-benar membangun sistem AI, hasil terukur bukan cuma sertifikat, dan ada pendampingan setelah training selesai supaya materi benar-benar dipakai di lapangan.<\/p>\n<h3>Apakah training AI cocok untuk semua ukuran tim?<\/h3>\n<p>Bisa disesuaikan. Tim kecil atau UMKM bisa mulai dari workshop hands-on untuk automasi tugas admin dasar, sementara tim besar dengan kebutuhan kompleks mungkin lebih cocok dengan program konsultasi berkelanjutan atau setup Done-For-You.<\/p>\n<h2>Referensi<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/press.aboutamazon.com\/sg\/aws\/2025\/8\/new-aws-research-shows-strong-ai-adoption-momentum-in-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener nofollow\">AWS &amp; Strand Partners \u2014 Unlocking Indonesia&#8217;s AI Potential (2025)<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.accenture.com\/id-en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener nofollow\">Accenture \u2014 Riset adopsi AI perusahaan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.hp.com\/us-en\/workstations\/work-relationship-index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener nofollow\">HP Work Relationship Index<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p><em>Disclaimer: Konten ini bersifat edukasi, bukan saran final. Kebutuhan dan biaya training AI bergantung pada skala, industri, dan tujuan masing-masing perusahaan. Konsultasikan kebutuhan spesifik sebelum memutuskan program.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>tl;dr: Adopsi AI di perusahaan Indonesia naik cepat, tapi banyak tim yang punya akses ke AI justru belum produktif pakai \u2014 masalahnya bukan lagi soal keputusan adopsi, tapi skill SDM yang ketinggalan. Training AI untuk tim jadi jawaban paling langsung: bukan sekadar kenalan teori, tapi bikin karyawan benar-benar bisa pakai AI buat kerjaan sehari-hari. Di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1047,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[180],"tags":[],"class_list":["post-1043","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kursus"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1043","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1043"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1043\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1062,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1043\/revisions\/1062"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1047"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1043"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1043"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/komunitech.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1043"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}